Rabu, 01 Mei 2013

Fase Pertama

Sedari subuh tadi, aku berfikir keras tentang bagaimana hidupku kelak. Tentang harapan dan mimpi-mimpi.
Yang dulu semu kini semakin tertata. Aku punya pandangan, tidak lagi bayang-bayang fatamorgana yang menjanjikan keindahan. Aku menemukan jalanku.

Sekian lama aku bertarung melawan pikiranku untuk segera menemukan dimana aku seharusnya berada. Aku melangkah tak pasti. Beban materi dan penghargaan lingkungan saat itu begitu membuatku ingin menangis saja. Aku, lulusan baru dari program yang tidak semua orang mengerti juntrungannya sempat kalah. Kalah dengan keadaan sampai-sampai aku beralih murtad. Mengkhianati kesenangan dan mimpi-mimpiku.
Tidak salah memang. Aku berhak memilih. Rasa bersalah atas pengkhianatan biar aku yang tanggung.

Waktu semakin mengejar. Aku membayang pada sesuatu yang memang tidak seharusnya aku inangi. Dengan segala upaya aku mencoba bangun, menghampiri kesenanganku yang semoga akan menjadi takdirku.
Mimpi-mimpiku.
Siapapun, tidak akan pernah mengerti bagaimana takdir akan membawa kalian. Mereka berjalan melalui proses yang harus dengan sabar kalian telateni. Seperti angin, mereka menerpa semau mereka, mereka berjalan semau mereka. Pintar-pintarlah kalian menangkap angin. Nantinya, jangan sampai mimpi -mimpi hanya berhenti sebatas hiburan untuk otak.

Tuhan senang membaca tulisan-tulisanku dalam blog. Dia akan mengamini segala harapanku. Entah kini atau kapanpun.

Selasa, 30 April 2013

Paha KFC

Aku bertemu dengan banyak orang-orang mengagumkan dalam sebuah acara. Menarik. Tapi yasudah, bukan itu yang ingin aku ceritakan.

Suatu malam, aku berubah menjadi seorang ratu drama karena sebuah film. Menyedihkan. Seketika itu, sekelilingku tiba-tiba menjadi muram. Kekasihku, langit malam, kondisi perut dan kabar duka dari jadwal kereta yang tidak mementu untuk kepulanganku esok pagi. Terpaksa aku tidur untuk melupakan segala yang tidak mengenakkanku.

Pagi.
Kegiatan menyenangkan pagi hari dari dalam kamar hotel lantai tiga adalah melihat matahari terbit. Tidak seindah di puncak gunung memang, tapi aku begitu menyukainya.
Muncul dari balik atap-atap gedung. Sayang, aku harus berbagi jendela dengan dua orang lainnya di dalam kamar. Kuintip saja matahariku dari balik tirai, teman-temanku tidak mengizinkannya masuk.

Berangkat ke stasiun.
Aku lupa bagaimana ceritanya hingga aku putuskan untuk berangkat sepagi itu. Berdua dengan teman lain yang membuatku menunggu lama di dalam mobil. Membuatku melewatkan kehangatan dari matahari di lantai tigaku.
Akhirnya dia datang. Sempat membuatku malas berada satu tumpangan dengannya.

Tapi semua itu berjalan menyenangkan setelahnya. Setelah aku mendapati kenyataan bahwa kepulangan kami harus ditunda untuk beberapa jam. Agak aneh memang, Tuhan sangat lucu.
Dia menemuiku. Ku ajak menunggu bersama sekedar berbasa-basi karena rasa sungkan dan kesepian. Buku dan headset aku lupakan dan dengan seksama mendengar panjang lebar ceritanya.
Aku suka mendengar dia bercerita. Suatu kebahagiaan masuk menyapu semua kemuraman malam itu.

Terimakasih atas matahari pagi dan teman di bandara, Tuhan.

Senin, 16 Juli 2012

Curhat Sakit

What im goin supposed to post? Yak, bingung.
Baiklah akhirnya setelah dipikir-pikir telah diputuskan bahwa posting kali ini akan berisi tentang *drum roll*  curhat kondisi badan yang sangat tidak menentu.Out of shape for a month is a disaster, y'all known.

Bermula dari radang tenggorokan berhari-hari, kemudian kena diare dan beberapa hari berikutnya badan meriang kemudian panas tinggi terus jatohnya kena tipes.
Awalnya masih biasa aja lah ya kena radang dan diare karena udah bukan hal yang baru lagi untuk gadis penyakitan seperti aku, tapi tipesnya itu bikin kaget.

Sejauh ini tipes adalah penyakit paling parah yang pernah singgah di badanku. Sebelumnya, sebelum kena vonis tipes, selama kurang lebih 5 hari badan ngga karuan banget rasanya, dari yang panas banget ketika malem bisa jadi menggigil kedinginan besok paginya, begitu terus setiap hari.

Lewat hari ke lima, baru ada rencana pergi ke dokter. Finally. Awalnya aku gamau ke dokter karena aku pikir cuma masuk angin biasa. Sempet panggil Mbak Mul buat mijet dan ngerokin, hasilnya lumayan sih. Badan jadi agak enteng. Sembuh? That's all i want tapi ternyata belum. Panas dingin lagi ngga karuan. Pusing, mual, muntah ibaratnya udah seperti kegiatan wajib selama 5 hari sebelum ketemu dokter.

Akhirnya aku menyerah. Maka berkeluh kesahlah aku kepada bu dokter yang kalo diliat dari gesture tubuhnya kurang meyakinkan. Dia masih muda dan actually made me wanna run as far as i can. Tapi masih sakit, jalan aja susah gimana dong? lol. My mom was so nervous too tapi dia tetep mempertahankan aku buat diperiksa disitu. Tidak lain tidak bukan adalah karena jarak tempat prakteknya dekat dari rumah.

Beberapa menit diperiksa, sampai pada akhirnya aku dapet semacam surat rekomendasi buat check darah ke lab. Meluncurlah aku dan ibu menuju lab.Daftar, antre, masuk, disuntik, menunggu. Kurang lebih dua jam nunggu dan hasilnya positif tipes.

Lalu bla bla bla bla kesana kemari dan dapat hadiah berupa butiran-butiran obat yang kalau diminum bikin badanku melayang-layang dan jantungku berdebar-debar. I aint gonna sick anymore. Belum sampai obatnya habis aku berhenti konsumsi. Pertama, karena hal tersebut diatas. Kedua, emang karena merasa udah mendingan. Single thing i can't stop by, penggelonggongan bubur tetap dilakukan besar-besaran setiap hari. Thankyou, Mom.

Mungkin cerita ini ngga ada intisari atau pesan moral yang bisa dipetik. My bad. Tapi yah semoga bisa di telaah lagi deh biar ada yang dipetik. Halah.

Jumat, 10 Juni 2011

Avatar Bobble Battles

Game nggak tau seperti apa, langsung tertarik aja gitu pas liat covernya. avatar versi chibi. Gemes
Bisa diunduh disini :)

Rabu, 08 Juni 2011

Blur.

Apakah kalian mengalami fase susah fokus seperti saya?
Fase dimana kalian tidak tau bagaimana cara untuk berlari. Jangankan berlari, melangkah saja sulit. Seperti tersesat dalam jaring laba-laba. Yang tujuannya sebenarnya kalian tahu tapi untuk mencapainya, sulit.

Ya, wajar memang. Tapi sampai kapan kewajaran seperti ini akan membuatku berhenti? Jika masih aku analogikan denga jaring laba-laba, maka semakin lama aku berhenti, semakin mudah tuan rumah jaringku memangsaku.
Dimakan waktu. Kejam memang, terus saja mereka berjalan tanpa mau menungguiku barang sebentar. Sebenarnya apa yang aku tunggu?

Rumit.