Selasa, 18 Maret 2014

Level Kebahagiaan dan Gravitasi

Ini adalah akhir dari sebuah kisah yang tidak pernah dimulai. Bagaimana perasaanmu akan menggambarkan betapa diberkatinya kamu dengan kebahagiaan?

Sore tidak lebih indah dari sore-sore sebelumnya. Beberapa waktu lalu, seekor anak ayam pernah mencoba mengajak seekor bangau untuk menemaninya menyusuri pinggiran sungai. Menyenangkan.

Sampai akhirnya bangau terbang meninggalkan anak ayam yang sebenarnya merasa masih sangat baik-baik saja. Seperti biasanya, semua berjalan sesuai porsi kegembiraan si anak ayam. Suatu malam, si anak ayam selalu berpikir bahwa kegembiraannya tidak lebih indah daripada ketika bersama si bangau.

Pernah mendengar mengenai standar kebahagiaan dan gravitasi? Keadaan dimana rasa bahagia yang sebelumnya tidak terasa lebih bahagia ketika kamu merasa menemukan celah level kebahagiaan yang lebih tinggi. Well, begitulah.

Sebaiknya kamu segera mencari tahu sebelum gravitasimu berubah dan menimbulkan perubahan pola pada tingkat kebahagiaanmu sebelumnya. Itu sulit. Beralih dari bahagia menjadi merasa sangat bahagia dan kemudian menyadari bahwa sumber kebahagiaanmu adalah tetap pada dirimu sendiri.

Rabu, 23 Oktober 2013

Ha!

Pada pertengahan malam menjelang subuh, seperti biasa, aku masih menenggelamkan pikiranku pada hal-hal abstrak yang tidak bermuara. Tenggelam pada tujuan, masa depan, dan pertanyaan mengenai siapa sebenernya aku.

Hal paling mendasar yang dalam beberapa bulan terakhir terlalu sibuk aku kubur dengan jejal mengenai tujuan. Bukan berarti aku keliru, aku hanya sedikit terlena. Dengan kamu, duniaku. Duniaku yang mana lagi, tentang aku pun masih menjadi pertanyaan besar yang kusampaikan pada paragraf pertama.

Bicara mengenai dunia, aku akan coba memulai mendefinisikan siapa diriku melalui dunia yang sejauh ini menjadi tempat pertautanku dengan sesuatu yang kusebut hidup. Mari coba menebak-nebak, aku bernafas, memiliki buah dada, berjalan dengan dua kaki. Secara umum, dalam bahasa verbal aku layak disebut manusia yang berjenis kelamin wanita.

Hidup tidak melulu berpangkal pada kelamin, aku masih belum puas. Definisi kebendaan tidak akan kuperpanjang lagi. Mengenai jiwa. Sudah mampukah aku untuk berkata lega atas segala yang kusebut pencapaian?

Baiklah, tentang siapa aku. Klise, akan aku analogikan diriku sebagai ulat pemakan daun yang mencoba berproses menjadi kupu-kupu. Fase kepompong, aku belum yakin betul apakah aku sudah mendapatkan formulanya. Proses yang sedang kujalani sepertinya masih saja stagnan pada rambatan-rambatan kecil si ulat bulu. Tiarap.

Tahukah kalian apa yang sedang menjadi kesenanganku? Makan. Makan sebanyak mungkin, itulah mengapa lambat laun aku merasa gemuk. Aku suka sekali makan. Makan apa saja, rakus memang. Aku sedang memilah daun-daun untuk pada akhirnya kujadikan nama belakang  yang kemudian kutulis besar-besar pada pupa kepompongku kelak. Bicara mengenai hasil, aku belum terlalu peduli dengan corak sayapku ketika mengepak-ngepak nanti. Untuk dapat terus makan saja aku sudah sebahagia ini.

Agak norak sih.

Jumat, 06 September 2013

Rabu, 04 September 2013

Minggu, 11 Agustus 2013

Pangeran Buruk Rupa dan Putri Salju Yang Menyamar Dengan Bandana

Ganjil. Perasaan macam-macam sedang bergumul dalam diriku. Lagi-lagi aku merasa terjebak dalam pikiranku sendiri. Otakku serasa menjadi bagianb dari mesin yang tidak bisa berhenti berputar. Tidak bisa kukendalikan. Aku tidak bisa bahkan sebentarpun membuatknya berhenti.Apakah kalian akan tetap menanyakan sebenarnya apa yang sedang kupikirkan? Kutub negatif dan positif.

Pada suatu malam setelah aku berhasil menyelesaikan bacaanku yang dari sekian bulan lalu kutinggalkan, aku mendadak merasa sedikit ganjil. Tentang dua kutub yang satu kali ini ingin kuperjelas bagaimana sinkronisasinya dengan pikiranku. Pikiran yang menjebakku. Akan membosankan dan berputar-putar, maaf. Aku hanya menulis apa saja yang ingin kutulis tanpa menghiraukan untuk kalian nilai.

Iya, berputar-putar seperti jika kalian mendekatkan kutub-kutub magnet dalam ujung yang berbeda. Mungkin itu yang sedang pikiran dan jariku lakukan. Jangan terlalu serius, lagi-lagi aku menulis hanya semauku.

Aku kembali seperti ini, menulis seperti ini. Bukan sedang murung atau merasa cemas dengan segala hal absurd di sekitarku, hanya berpikir. Tak tau. Aku tak tau kelanjutan kata yang akan aku rangkai berikutnya untuk kujadikan sebuah posting yang utuh. Memang tak pernah ada ujung.

Ketika aku adalah dewi kepositifan yang berbalut dengan segala yang baik-baik. Pernah kalian memikirkan tentang bagaimana pandangan orang terhadap pakaian kalian? Aku iya. Aku terlalu peduli dengan banyak orang sebenarnya, sampai lupa bagaimana memandang caraku mengenakan jubah kebesaranku. Suatu kali, aku ingin menjadi seorang berbeda. Dengan pedang dan seekor kuda gagah kutuntun dan kukatakan pada siapapun bahwa aku adalah pangeran dari kerajaan eksistensialis.

Ketika aku adalah dewi yang beralas segala tentang kenegatifan. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku terlalu naif untuk berani berkuda dan membawa pedang. Yang kulakukan hanya bersembunyi dari balik kelambu bercorong menghadap keatas yang coraknya sebenar-benarnya sangat membosankan. Ketika berada diantaranya mungkin aku akan berjubah putri salju dan berkata kepada setiap kurcaci bahwa aku adalah kelinci paskah yang sengaja dijebak dalam rimba dan dikutuk menjadi seorang bergaun dan berbandana. Skeptis.

Begitulah.