Senin, 14 September 2015

Menulis Musik: Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Saya mengenal Efek Rumah Kaca (ERK) semenjak kelas 2 SMA, kala itu kakak sepupu perempuan saya, yang sudah duduk di bangku kuliah, mengatakan kalau lagu dari band ini bagus. Lagu ERK yang pertama kali dia perdengarkan kepada saya adalah Desember dari album Kamar Gelap (2007).

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember
Di bulan Desember..

Benar, liriknya berbeda dengan lagu-lagu yang dibawakan band-band Indonesia kebanyakan. Yang kala itu suka bicara tentang cinta tapi ya begitu deh, nggak ada manis-manisnya. Setelah perkenalan itu, saya masih merasa biasa saja terhadap Cholil dan kawan-kawan. Mungkin karena mau UN. Atau galau. Ya biasalah, ABG. Lalu.. pada suatu sore sepulang sekolah saya menyalakan televisi. Alhamdulillah, kala itu masih ada MTV di sisa-sisa kejayaannya. Entah MTV Ampuh atau program MTV apa saya lupa, diputarlah lagu Kenakalan Remaja di Era Informatika. Yap, lagu baru ERK kala itu yang masuk dalam album Efek Rumah Kaca yang kalau tidak salah release setahun setelah album Kamar Gelap.

Semenjak itu, rasa penasaran saya timbul. Band begini laku di TV?

Saya cari tahu dan coba mengunduh beberapa lagu ERK. Di warnet. Lewat 4-shared. Sebagian Bees Mp3. Dan Stafaband. Entah dari portal mana lagi, yang jelas waktu itu saya download per satu lagu. Beberapa jam di warnet, saya berhasil mengumpulkan beberapa lagu. Kompilasi dari dua album yang sampai sekarang bikin saya bingung lagu A sebenarnya masuk di album yang mana. Lagu B masuk yang mana. Iya, karena ngunduhnya awut-awutan. Beruntung walaupun semrawut, saya punya inisiatif ngunduh dari internet. Beberapa hari setelah ngunduh, saya coba nantikan kembali Mas Cholil di MTV hasilnya sudah nihil.

Sebagian besar lagu yang saya unduh kemudian menjadi lagu favorit dan bertahan sampai sekarang. Namun, ada satu lagu yang menurut saya misterius. Tiap kali saya mendengarkannya, saya selalu berfikir “Asu! Mas Cholil ini ngomong apa sih?”. Lagu yang bikin saya nggak doyan makan makanan basi itu adalah Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Jeng jeng..

Sebagai remaja 17 tahun yang sedang lucu-lucunya waktu itu saya sempat tidak setuju dengan lirik yang dilantunkan Cholil. Jatuh cinta itu bukan hal biasa. Apalagi bagi gadis biasa-biasa saja seperti saya, yang disuit-suitin mas-mas di perempatan aja jarang. Menurut saya, Cholil terlalu sombong. Ganteng enggak, beken enggak tapi bisa menyimpulkan kalau jatuh cinta itu biasa saja? Jancuk. Tahun demi tahun pencarian saya lakukan. Niatnya tahun demi tahun namun baru beberapa bulan sudah teralihkan sama euphoria perkuliahan. Pencarian saya terhenti. Hehe. Ngomong-omong, ketika kuliah banyak teman yang ternyata sama-sama suka Efek Rumah Kaca. Namun, tidak pernah terjadi obrolan serius mengenai makna lirik yang mereka bawakan. Kami lebih sibuk sing along kalau dengar lagu-lagunya.

Lulus kuliah, saya mengenal seorang Sagitarian yang waktu itu masih enak diajak ngobrol. Suatu ketika dalam obrolan, kami bahas satu lagu Efek Rumah Kaca yang ternyata sama-sama membuat kami bingung. Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Dari sana saya menemukan sudut pandang lain yang intinya jatuh cinta memang sangat biasa saja. Semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Namun, kadar dari cinta yang kadang membuat orang-orang lupa dan cenderung menjadi fanatism. Cholil menganalogikan perasaannya melalui lirik yang menggiring kita untuk berfikir bahwa jatuh cinta adalah milik sepasang pemuda dan pemudi. Entah hanya saya saja yang berfikir seperti itu atau tidak, sudut pandang saya sudah dipengaruhi pemikiran seperti itu. Satu yang saya yakin, ERK punya pemikiran yang lebih luas daripada itu. Baiklah, saya akan coba ulik gambaran cinta dalam lagu ini melalui bait-bait liriknya. To be discuss ya, hal yang saya tulis di sini tidak bersifat mutlak.

Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji

Bait pertama mengatakan bahwa setiap orang harus membiasakan diri untuk tidak bersikap berlebihan. Entah pada pasangan atau objek tertentu untuk menghindarkan diri kita dari sikap fanatism dan ketergantungan. Jatuh cinta adalah penggambaran ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan perasaan lapar. Bahwa sebenarnya perasaan tersebut dapat dikendalikan sesuai porsi yang dimaui. Berhubung saya Muslim, nih saya kasih tahu kalau ayatnya telah dijelaskan di QS. Al-Maidah : 77. Kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

"Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus"

Ehem, lanjut ke bait kedua ya..

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi

Bait kedua terlihat kompleksitas bahwa jatuh cinta adalah penggambaran lain dari toleransi dan hormat-menghormati. Kalimat paling manis dalam lagu ini, menghidupi cinta. Bangke.

Ketika rindu menggebu-gebu
Kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja

Saat cemburu kan membelenggu
Cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja

Bait ketiga dan ke empat adalah sebuah penantian. Penantian yang setiap orang tahu bahwa konklusinya ditentukan oleh waktu. Saya yakin, apabila pesan dalam bait pertama dan kedua dapat diterapkan, maka proses penantian ini tidak akan menguras energi dan air mata. Maka benar jika jatuh cinta biasa saja. Yang LDR, semangat ya!

Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap lalu hati kita gelap


Sudah ya yang ini tidak perlu saya bahas. Silakan tarik kesimpulan masing-masing. Semoga seiring dengan kalimat terakhir yang saya ketik ini, kalian tidak merasa digurui. Haha. Pada dasarnya, sudut pandang adalah hal paling personal yang saya dan kalian miliki. Salam super!


Sukoharjo
14 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Menulis Musik: Music Make Me Feel Alright

Pada suatu hari, saya sedang dalam keadaan yang benar-benar kacau. Pertama, saya sedang merasa tidak produktif sama sekali. Kedua, saya sedang mengalami pre-menstruasi syndrome yang entah sebenarnya saya kurang begitu yakin hal ini memberi pengaruh atau tidak dalam kekacauan mood yang sedang saya alami.

Dari pagi hingga pagi, tidak ada hal yang benar-benar membuat saya merasa menjadi manusia produktif. Bangun tidur buru-buru saya meraih smartphone, memandanginya berjam-jam sekedar untuk stalking atau say hi kepada teman-teman, selanjutnya membuka laptop sesekali yang berakhir dengan nonton film saja padahal sedari awal sudah berniat menyelesaikan beberapa proposal. Jadilan abstraksi di keynote saya menumpuk sehingga membuat malas. Pelarian terakhir adalah kembali ke smartphone.

Kemarin, setelah beberapa hari merasa terpuruk, saya baru ingat bahwa saya melewatkan sesuatu. Beberapa album gratisan dari torrent yang sengaja saya unduh namun belum sempat saya dengarkan. Maaf, bukan belum sempat deng, tapi lupa. Segera saya buka folder downloads yang telah dipenuhi sarang laba-laba. Baiklah ini berlebihan. Saya buka album downloads dan memasukkan satu album ke i-tunes. Pilihan jatuh kepada album In Heaven dari Mr Twin Sister. Saya cukup kaget mendapati 18 lagu dalam satu album. Ya ampun banyak sekali!

7 lagu pertama berjudul Daniel, Stop, Bad Street, Space Babe, Kimmi In A Rice Field, Luna’s Theme, dan Spain saya dengarkan sambil lalu karena tidak berhasil membuat perasaan saya bergetar. Halah. Dengan keyakinan bahwa saya akan menemukan jarum dalam tumpukan jerami, maka telinga ini terus saya paksa untuk menantikkan track selanjutnya hingga kedelapan belasnya habis. Tibalah di lagu ke delapan yang berjudul Gene Ciampi.

If you like Gene Ciampi 
You will love his movies!
He's everybody's dream

Beberapa bait yang saya ingat setelah dua kali mendengarkan Gene Ciampi. Saya tidak tahu pasti apa arti dari Gene Ciampi. Awalnya saya pikir Gene Ciampi adalah sebuah kalimat dari bahasa asing yang berarti terimakasih atau semacamnya namun setelah saya cari tahu liriknya, saya tarik kesimpulan bahwa Gene Ciampi adalah nama seorang idola. Siapapun dia, Mr Twin Sister telah mewakili perasaan penggermar Tuan Gene Ciampi dalam lagunya.

Satu hal yang akan saya lakukan apabila saya telah berhasil menemukan jarum dalam tumpukan jerami yang telah lama saya nanti (?) adalah memutarnya terus-menerus. Mengulang-ulang untuk kemudian saya bagikan kepada beberapa teman dekat. Asal kalian tahu, sharing lagu adalah wujud kepedulian saya terhadap kebahagiaan teman-teman yang saya harap berbanding lurus dengan kebahagiaan saya ketika mendengarkan lagu tersebut. Manis sekali bukan?

Ketika terus menerus mendengarkan Gene Ciampi, hormon kebahagiaan saya meningkat. Perasaan karena menjadi seseorang yang tidak produktif digantikan oleh semangat baru yang menuntut saya untuk bahagia karena produktifitas saya harus dimulai hari ini. Ajaib. Hal ini bukan pertama kali saya rasakan, sebelum bertemu Gene Ciampi ada beberapa lagu yang memberikan efek macam-macam terhadap diri saya. Lebih tepatnya membolak-balikkan suasana hati.

Bagaimana bisa sebuah lagu dapat mengubah mood seseorang?

Setiap orang memiliki reaksi yang berberda-beda terhadap musik. Satu orang mungkin menyukai musik pop, metal atau dangdut, sementara yang lain akan merasa bahagia jika mendengarkan Mozart.

Finding out the actual year made me realize how much happier I was not knowing,
I’m heavily distracted is this just an illusion is this romantic dreaming?
I’ve forgotten everything.

Setelah saya cari tahu melalui portal luar biasa bernama Kerang Ajaib, tentu bukan, portal luar biasa bernama Google, yang baru saja memberikan kemiringan beberapa derajat pada huruf "e" yang kemudian ditafsirkan menjadi sebuah smiling e(ye) (tapi keduluan Heineken), sebuah penelitian dari Kanada, yang diterbitkan pada Nature Neuroscience, telah menunjukkan bahwa memainkan musik favorit bisa membantu mencairkan suasana hati yang buruk. Ini linknya.

Musik dapat memicu adanya pelepasan dopamine, yang berhubungan dengan perasaan senang, sedih, marah dan lain sebagainya karena mendengarkan musik.

Dopamine adalah suatu neurotransmitter yang terbentuk di otak dan organ tubuh lain. Neurotransmitter adalah senyawa yang menghantarkan sinyal atau rangsangan antar sel saraf atau antara sel saraf dengan sel lainnya. Dari Wikipedia sih gitu.

Well, saya akan tetap percaya bahwa musik adalah keajaiban. Bahwa musik adalah gambaran jiwa dari setiap pendengarnya. You are what you listen to adalah benar adanya. Salam super!


Sukoharjo
13 September 2015


Kamis, 20 Agustus 2015

Pemburu Dollar

Aku, Si Kulit Merah, berjalan menghampiri sebuah kotak pencetak dollar. Sebelum berhadap-hadapan dengan kotak pencetak dolar, Aku terlebih dahulu menenggelamkan diriku ke dalam lumpur untuk menuju sebuah bilik pengap yang di atap-atapnya terdapat matahari-matahari yang menggantung. Bilik yang di dalamnya menyimpan kotak pencetak dollar.

Lima menit sebelum Aku menujunya, Aku bertanya pada sebuah pohon akasia tua yang tak membuahkan hasil. Kuhitung kancing di kemeja garis-garisku, menekan-nekan lingkarannya untuk menemukan signal menuju kotak pencetak dollar. Tit tit tit tit... muncul bunyi penanda sinyal saat aku berkata "kanan" sambil menekan kancing kedua kemejaku. Berjalanlah Aku menuruti signal penanda sampai menembus kubangan gerbang berlumpur sampai dasar. Benar, sebuah kotak pencetak dollar berjajar melingkar menyisakan ruang di tengahnya untuk menampung pemburu dollar selain Aku.

Matahari-matahari yang menggantung sempat mengurungkan niatku memburu dollar. Kuciumi kembali sisa-sisa wangi dollar dalam dompetku. Semangatku kembali menyala. Aku siap berburu. Ujung panah kuambil dari dalam saku ransel. Siap kulesatkan membobol kotak ajaib di depanku.

“Hey!” Suara setengah berteriak muncul dari belakang. Aku membalik punggung. Ternyata Kamu. Si Kulit Hijau berjakun dengan ransel berisi busur. Kamu juga hendak memburu dollar. Baiklah, persaingan dimulai. Kamu mengelabuiku dengan berondong pernyataan dan pertanyaan. Aku balik menyerang namun tak kunjung membuatku mendekatkan jarak busurku dan kotak di depanku. 

Akhirnya, kugunakan cara lama, mengalah. Kupersilakan Kamu menyongsong dollarmu. Memberi keleluasaan untukmu menarik busur panahmu. Segeralah melunak, pikirku. Dan…. Berhasil! Segera aku menuainya. Kubobol mesin dengan lesatan empat busur panahku. Aku berhasil. Tapi tunggu dulu, Aku masih harus memikirikan cara untuk melewati badanmu yang besar untuk keluar dari bilik pengap ini. Kutengok Kamu kembali yang sedang lengah tepat di belakangku. Aku mundur diam-diam dalam langkah yang halus.

Sekali lagi Aku berhasil. Tak kusangka semudah itu aku melewati Kamu.


Sampai jumpa lagi.

R.M. Tunduno, Bandar Udara Haluoleo, Kendari
20 Agustus 2015

Senin, 25 Agustus 2014

Kuncup-Kuncup Mulai Mekar

Kuncup-kuncup mulai mekar
Kegelisahan terhadap zaman kini mulai menghinggapi helai-helai kemudaannya
Jiwa yang sedari muda terbiasa dibiarkan terkurung di antara kemanjaan dari ibu dan hati keras dari ayah
Kasihan

Kuncup-kuncup mulai mekar
Tekadnya tidak sekekar otot-otot yang mulai tampak dari badannya yang dulu begitu kecil dan gemar kuciumi
Dia rapuh dan kebingungan
Tidak tahu arah angin, tidak melihat di mana sesungguhnya letak matahari
Hanya bias-bias cahaya yang selama ini dihadiahkan pada kulitnya yang kering

Kuncup-kuncup kini mulai mekar
Aku ingin pulang
Mendampinginya tumbuh besar
Menuntun jalannya, menggandeng tangannya, memberitakan padanya bahwa matahari adalah benar panas dan bukan sekedar bias

Untuk Adikku,

Jakarta, 25 Agustus 2014

Rabu, 13 Agustus 2014

Aku Kamu

Aku kamu berat tanpa beban
Aku kamu bulan bintang tanpa orbit
Seandainya aku kamu berlayar di perahu tanpa jangkar
Sekuat apa kayuhan dayungku dayungmu menelan arus?