Kamis, 17 September 2015

Menulis Musik: Setahun Mengenal Gamelan

Saya adalah orang yang sampai sekarang yakin bahwa suatu hari nanti saya akan mempunyai sebuah band. Saya mendengarkan dan mencintai musik jenis apapun. Permasalahannya, pertama, sampai sekarang saya tidak mendapat pengakuan jika suara saya merdu. Kedua, saya tidak dapat bermain alat musik.

Ketika SD, saya senang klothekan (pukul-pukul meja sambil menyanyi) ramai-ramai. Hal tersebut terbawa hingga SMP dan baru dapat tersalurkan dengan baik ketika masuk bangku SMA. Di SMA, ada satu pelajaran wajib untuk anak kelas X. Karawitan. Mungkin saya adalah siswa yang selalu menantikan pelajaran yang hanya diajarkan dua jam tiap satu minggu dari seluruh jadwal pelajaran lain di sekolah.

Gamelan adalah alat musik pertama yang diajarkan kepada saya secara formal. Hal dasar yang saya pelajari sebelum praktek adalah mengenal gamelan secara teori. Bahwa notasi pada gamelan tidak berupa solmisasi yang terdiri dari 7 nada. Gamelan memiliki susunan notasi pentatonis yang terdiri dari 5 nada dan terbagi menjadi dua laras, slendro dan pelog. Entahlah apa sejatinya slendro dan pelog sampai sekarang saya tidak mengerti.

Ketika pertama masuk kelas karawitan, kita semua dibebaskan untuk memilih alat musik apa yang akan kita mainkan. Dengan cepat dan tangkas, saya langsung memilih Saron tanpa alasan berarti. Saron adalah alat musik tabuh yang memiliki nada satu oktaf lebih tinggi dari iringan pentatonik lainnya. Dalam memainkan Saron, tangan kanan memukul lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet logam yang telah selesai dipukul untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet yang berasal dari kata dasar pathet yang dalam Bahasa Indonesia berarti pencet. 

Nampaknya Saron adalah jodoh saya. Tanpa tahu apa itu laras pelog dan slendro saya langsung dapat beradaptasi memainkan saron. Pelajaran berikutnya secara acak saya coba memainkan instrumen lain, Saron Penerus. Bentuknya lebih kecil dari Saron Demung dan Saron Barung. Cari sendiri di google ya. Cara mainnya tidak jauh berbeda, masih menggunakan teknik memathet tapi dilakukan dua kali tabuh untuk masing-masing nada. Saron Penerus merupakan salah satu mimpi buruk bagi teman-teman sekelas. Oh my.. bukan cuma Saron Penerus deng, kelas karawitan adalah mimpi buruk bagi setiap siswa kelas X. Karena gurunya memang seram sih, Alm. Pak Parno. Secara fisik beliau mirip Suneo tapi hatinya bagaikan Giant yang gampang sekali terpantik amarahnya. Beliau paham betul tentang laras/tidaknya sebuah tembang. Satu nada yang meleset sama dengan satu penghapus yang diterbangkan dari tangannya. 

Anyway, Saron Penerus adalah jodoh saya yang kedua. Keluarga Saron memiliki andil 75% dari sebuah tembang, Saron adalah instrumen yang dijadikan penuntun untuk instrumen lain. Maka tidak heran dalam satu rangkaian gamelan biasanya punya 4 saron.

Suatu hari, Kata Pak Parno, cepat lambat ketukan gamelan penuntun ditentukan oleh komando tabuhan dari Kendhang. Saya sempat tertarik untuk mencoba menabuh Kendhang, tapi waktu itu, posisi kendhanger lebih popular di kalangan siswa laki-laki. Jadi niat untuk memilih menabuh Kendhang saya urungkan sejak hari ketiga kelas karawitan.

Tibalah hari dimana saya terlambat masuk kelas. Masing-masing siswa sudah duduk manis di belakang instrumen pilihannya. Satu kursi kosong tersisa di belakang Bonang Penerus. Cara memainkan Bonang juga ditabuh, sama seperti Saron. Namun, tabuhannya tidak menggunakan teknik pathet. Bonang memiliki dua alat tabuh yang masing-masing dipegang oleh tangan kanan dan tangan kiri. Susunan logam tabuhnya berjumlah 12 dengan susunan 6 di bawah 6 di atas. Semua terasa baik-baik saya sebelum saya tahu kalau 6 atas dan 6 bawah logamnya disusun terbalik. 6 atas adalah do re mi fa sol la si, 6  bawah adalah do si la sol fa mi re. Satu yang masih menjadi misteri, bagaimana bisa 6 buah logam ini menghasilkan 7 nada notasi solmisasi. Bangkai.

Misteri belum berakhir. Ternyata ketukan Bonang tidak sama dengan Saron. Bonang diketuk dengan tempo ½ lebih cepat dari Saron. Percobaan pertama, dua kali penghapus melayang ke arah saya. Ambyar pokoknya. For your information, kakaknya Bonang Penerus, Si Bonang Barung tingkat kesulitannya nggak jauh beda sama adiknya. Berkat Bonang, akhirnya saya merasakan mimpi buruk yang selama ini teman-teman saya rasakan.

Semenjak tragedi penghapus terbang, pertemuan demi pertemuan saya lewati dengan menabuh Saron Penerus. Sampai suatu kali saya memberanikan diri menjadi seorang kendhanger karena kendhanger yang biasanya nggak ada. Saya lupa judul tembang yang waktu itu sering kami gunakan dalam kelas karawitan. Tapi sampai sekarang saya masih ingat bunyi ketukan Kendhang yang waktu itu saya mainkan.

Tak Tak Tung Dha
Tong Tung Tong Tung
Tung Dha Tung Tung
Tung Dha Tung Tung
Tong Tung Tong Tung
Tak Dha Dha
Tak Dha Dha

Kendhang yang kelas kami pakai adalah Kendhang Kalih. Dalam Bahasa Indonesia kalih berarti dua. Kendhang ini terdiri dari Kendhang Ageng (besar) dan Kendhang Ketipung yang ukurannya lebih kecil. Kendhang Kalih menghasikan empat jenis bebunyian seperti yang saya tulis di atas. Tong dan Dha keluar dari tabuhan Kendhang Ageng. Tak dan Tung keluar dari tabuhan Kendhang Ketipung.

Pak Parno, guru paling killer tapi keren yang mengajari saya banyak hal itu, berhasil saya taklukkan. Beliau mengapresiasi keberanian saya bermain Kendhang dengan memberikan nilai sangat bagus di rapor. Pertama, tentu karena permainan saya bagus. Kedua, karena dari sekian puluh siswi cuma saya yang bisa main Kendhang. Hahahaha saya memang jumawa. *ditabok massal

Begitulah cerita mengesankan saya dan alat musik yang saya pelajari secara formal. Dari sini saya tersadar kembali bahwa mimpi saya membuat band sekeren HAIM adalah fana.



Sukoharjo
16 September 2015



Selasa, 15 September 2015

Menulis Musik: Keroncong dan Kenangan Masa Kecil

Falling in love is easy, staying in love is special

Quote dari timeline Twitter Tata. Ketauan deh gue kepo. Hahaha. Quote tamparan yang membuat saya merasa ingin jedot-jedotin kepala ke tembok. Bukan, bukan perkara hubungan kasih asmara antara saya dan orang terdekat saya. Seperti Mas Cholil, saya ingin memaknainya dengan pemahaman yang lebih luas. Berhubung tema #15HariMenulis kali ini adalah musik, maka saya akan mengkomparasikannya dengan pengalaman saya bersama musik. Anyway, sebelum lanjut membaca, silakan putar dahulu lagu yang linknya saya bagikan ini. Di Bawah Sinar Bulan Purnama dari Soendari Soekotjo. Biar syahdu.

Saya berasal dari keluarga Jawa yang sampai sekarang masih kental Jawanya. Kakek saya, Alm. Kasno Suwarto, adalah pengrajin ukiran yang tidak terlihat antusias dengan musik. Tapi, ketika mendengar keroncong di acara kondangan tetangga, beliau bisa duduk diam berjam-jam nglinting rokok sambil merem dengan bibir setengah komat-kamit. Bukan, beliau bukan sedang merapal mantra. Itu wujud apresiasi beliau terhadap keroncong. Nglaras kalau bahasa Jawanya.

Saya mengenal keroncong dari acara kondangan tetangga. Semenjak saya belum lahir, keroncong sudah jadi playlist wajib di setiap acara kondangan. Entah itu acara pernikahan, sunatan, atau acara-acara tingkat RT seperti tirakatan tiap malam tujuh belas Agustus. Pertama dengar keroncong, saya biasa saja, tidak suka tidak benci.

Beberapa tahun belakangan saya sempat rindu dengan keroncong karena kondangan sekarang tidak selaras dulu. Sekarang, DJ kondangan sudah jarang memutarkan keroncong. Tak jarang keroncong digantikan lagu dangdut alus milik Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan dangdut yang entah saya tidak tahu penyanyinya. Eh tapi jangan sedih, banyak pengamen keroncong di Solo yang setia jamming di beberapa tempat makan. Warung Timlo belakang Pasar Gedhe contohnya.

Lama tidak mendengar keroncong, setelah membaca quote dari timeline Twitter milik Tata, saya mencoba mencari sebuah lagu yang menurut saya mewakili quote tersebut. Sialnya, saya merupakan tipikal orang yang sulit mengahfal judul (judul apapun) apalagi judul lagu keroncong. Makna lagu keroncong yang pernah saya dengarpun sebenarnya saya tidak begitu tahu. Bagi saya, keroncong adalah mesin pembangkit memori masa kecil. Generator yang ketika dinyalakan, akan serta merta menghidupkan kenangan saya terhadap suasana kondangan. Dan acara kumpul-kumpul khas Jawa lainnya. Pernikahan bulik, aqiqah keponakan, sunatan sepupu, tirakatan RT, wajah kakek, sesi foto bersama dengan keluarga dan tetangga dari yang dulu masih hidup sampai sekarang sudah meninggal. Semua teproyeksi kembali jika saya mendengar langgam keroncong. Aduh jadi baper.

Keroncong tidak melulu tentang Soendari Soekotjo dan Waldjinah. Setahu saya, keroncong tidak hanya diadopsi oleh masyarakat Jawa. Baru saja saya tahu kalau Tantowi Yahya juga punya video keroncong di Youtube. Lagu Ayam den Lapeh dari Sumatera Barat juga disebut-sebut memiliki tatanan minor yang sama seperti lagu keroncong. Kalau menurut Wikipedia, keroncong adalah jenis musik diatonis yang komposisi instrumennya mirip dengan musik fado dari Portugis. Bukan mirip lagi sih, memang sejatinya berasal dari sana. Diadopsilah oleh tetua kita dan jadilah keroncong dengan berbagai versi. Pelaut-pelaut Portugis nggak mungkin cuma "piknik" ke Jawa saja. Mubadzir udah capek-capek kayuh dayung sampai ke luar negeri, melancongnya cuma ke satu lokasi.

Ini adalah pengalaman saya, bahwa keroncong tetap membuat saya jatuh cinta walaupun telah usang dimakan usia. Ngga usah pakai salam super ya!


Sukoharjo
15 September 2015



Senin, 14 September 2015

Menulis Musik: Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Saya mengenal Efek Rumah Kaca (ERK) semenjak kelas 2 SMA, kala itu kakak sepupu perempuan saya, yang sudah duduk di bangku kuliah, mengatakan kalau lagu dari band ini bagus. Lagu ERK yang pertama kali dia perdengarkan kepada saya adalah Desember dari album Kamar Gelap (2007).

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember
Di bulan Desember..

Benar, liriknya berbeda dengan lagu-lagu yang dibawakan band-band Indonesia kebanyakan. Yang kala itu suka bicara tentang cinta tapi ya begitu deh, nggak ada manis-manisnya. Setelah perkenalan itu, saya masih merasa biasa saja terhadap Cholil dan kawan-kawan. Mungkin karena mau UN. Atau galau. Ya biasalah, ABG. Lalu.. pada suatu sore sepulang sekolah saya menyalakan televisi. Alhamdulillah, kala itu masih ada MTV di sisa-sisa kejayaannya. Entah MTV Ampuh atau program MTV apa saya lupa, diputarlah lagu Kenakalan Remaja di Era Informatika. Yap, lagu baru ERK kala itu yang masuk dalam album Efek Rumah Kaca yang kalau tidak salah release setahun setelah album Kamar Gelap.

Semenjak itu, rasa penasaran saya timbul. Band begini laku di TV?

Saya cari tahu dan coba mengunduh beberapa lagu ERK. Di warnet. Lewat 4-shared. Sebagian Bees Mp3. Dan Stafaband. Entah dari portal mana lagi, yang jelas waktu itu saya download per satu lagu. Beberapa jam di warnet, saya berhasil mengumpulkan beberapa lagu. Kompilasi dari dua album yang sampai sekarang bikin saya bingung lagu A sebenarnya masuk di album yang mana. Lagu B masuk yang mana. Iya, karena ngunduhnya awut-awutan. Beruntung walaupun semrawut, saya punya inisiatif ngunduh dari internet. Beberapa hari setelah ngunduh, saya coba nantikan kembali Mas Cholil di MTV hasilnya sudah nihil.

Sebagian besar lagu yang saya unduh kemudian menjadi lagu favorit dan bertahan sampai sekarang. Namun, ada satu lagu yang menurut saya misterius. Tiap kali saya mendengarkannya, saya selalu berfikir “Asu! Mas Cholil ini ngomong apa sih?”. Lagu yang bikin saya nggak doyan makan makanan basi itu adalah Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Jeng jeng..

Sebagai remaja 17 tahun yang sedang lucu-lucunya waktu itu saya sempat tidak setuju dengan lirik yang dilantunkan Cholil. Jatuh cinta itu bukan hal biasa. Apalagi bagi gadis biasa-biasa saja seperti saya, yang disuit-suitin mas-mas di perempatan aja jarang. Menurut saya, Cholil terlalu sombong. Ganteng enggak, beken enggak tapi bisa menyimpulkan kalau jatuh cinta itu biasa saja? Jancuk. Tahun demi tahun pencarian saya lakukan. Niatnya tahun demi tahun namun baru beberapa bulan sudah teralihkan sama euphoria perkuliahan. Pencarian saya terhenti. Hehe. Ngomong-omong, ketika kuliah banyak teman yang ternyata sama-sama suka Efek Rumah Kaca. Namun, tidak pernah terjadi obrolan serius mengenai makna lirik yang mereka bawakan. Kami lebih sibuk sing along kalau dengar lagu-lagunya.

Lulus kuliah, saya mengenal seorang Sagitarian yang waktu itu masih enak diajak ngobrol. Suatu ketika dalam obrolan, kami bahas satu lagu Efek Rumah Kaca yang ternyata sama-sama membuat kami bingung. Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Dari sana saya menemukan sudut pandang lain yang intinya jatuh cinta memang sangat biasa saja. Semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Namun, kadar dari cinta yang kadang membuat orang-orang lupa dan cenderung menjadi fanatism. Cholil menganalogikan perasaannya melalui lirik yang menggiring kita untuk berfikir bahwa jatuh cinta adalah milik sepasang pemuda dan pemudi. Entah hanya saya saja yang berfikir seperti itu atau tidak, sudut pandang saya sudah dipengaruhi pemikiran seperti itu. Satu yang saya yakin, ERK punya pemikiran yang lebih luas daripada itu. Baiklah, saya akan coba ulik gambaran cinta dalam lagu ini melalui bait-bait liriknya. To be discuss ya, hal yang saya tulis di sini tidak bersifat mutlak.

Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji

Bait pertama mengatakan bahwa setiap orang harus membiasakan diri untuk tidak bersikap berlebihan. Entah pada pasangan atau objek tertentu untuk menghindarkan diri kita dari sikap fanatism dan ketergantungan. Jatuh cinta adalah penggambaran ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan perasaan lapar. Bahwa sebenarnya perasaan tersebut dapat dikendalikan sesuai porsi yang dimaui. Berhubung saya Muslim, nih saya kasih tahu kalau ayatnya telah dijelaskan di QS. Al-Maidah : 77. Kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

"Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus"

Ehem, lanjut ke bait kedua ya..

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi

Bait kedua terlihat kompleksitas bahwa jatuh cinta adalah penggambaran lain dari toleransi dan hormat-menghormati. Kalimat paling manis dalam lagu ini, menghidupi cinta. Bangke.

Ketika rindu menggebu-gebu
Kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja

Saat cemburu kan membelenggu
Cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja

Bait ketiga dan ke empat adalah sebuah penantian. Penantian yang setiap orang tahu bahwa konklusinya ditentukan oleh waktu. Saya yakin, apabila pesan dalam bait pertama dan kedua dapat diterapkan, maka proses penantian ini tidak akan menguras energi dan air mata. Maka benar jika jatuh cinta biasa saja. Yang LDR, semangat ya!

Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap lalu hati kita gelap


Sudah ya yang ini tidak perlu saya bahas. Silakan tarik kesimpulan masing-masing. Semoga seiring dengan kalimat terakhir yang saya ketik ini, kalian tidak merasa digurui. Haha. Pada dasarnya, sudut pandang adalah hal paling personal yang saya dan kalian miliki. Salam super!


Sukoharjo
14 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Menulis Musik: Music Make Me Feel Alright

Pada suatu hari, saya sedang dalam keadaan yang benar-benar kacau. Pertama, saya sedang merasa tidak produktif sama sekali. Kedua, saya sedang mengalami pre-menstruasi syndrome yang entah sebenarnya saya kurang begitu yakin hal ini memberi pengaruh atau tidak dalam kekacauan mood yang sedang saya alami.

Dari pagi hingga pagi, tidak ada hal yang benar-benar membuat saya merasa menjadi manusia produktif. Bangun tidur buru-buru saya meraih smartphone, memandanginya berjam-jam sekedar untuk stalking atau say hi kepada teman-teman, selanjutnya membuka laptop sesekali yang berakhir dengan nonton film saja padahal sedari awal sudah berniat menyelesaikan beberapa proposal. Jadilan abstraksi di keynote saya menumpuk sehingga membuat malas. Pelarian terakhir adalah kembali ke smartphone.

Kemarin, setelah beberapa hari merasa terpuruk, saya baru ingat bahwa saya melewatkan sesuatu. Beberapa album gratisan dari torrent yang sengaja saya unduh namun belum sempat saya dengarkan. Maaf, bukan belum sempat deng, tapi lupa. Segera saya buka folder downloads yang telah dipenuhi sarang laba-laba. Baiklah ini berlebihan. Saya buka album downloads dan memasukkan satu album ke i-tunes. Pilihan jatuh kepada album In Heaven dari Mr Twin Sister. Saya cukup kaget mendapati 18 lagu dalam satu album. Ya ampun banyak sekali!

7 lagu pertama berjudul Daniel, Stop, Bad Street, Space Babe, Kimmi In A Rice Field, Luna’s Theme, dan Spain saya dengarkan sambil lalu karena tidak berhasil membuat perasaan saya bergetar. Halah. Dengan keyakinan bahwa saya akan menemukan jarum dalam tumpukan jerami, maka telinga ini terus saya paksa untuk menantikkan track selanjutnya hingga kedelapan belasnya habis. Tibalah di lagu ke delapan yang berjudul Gene Ciampi.

If you like Gene Ciampi 
You will love his movies!
He's everybody's dream

Beberapa bait yang saya ingat setelah dua kali mendengarkan Gene Ciampi. Saya tidak tahu pasti apa arti dari Gene Ciampi. Awalnya saya pikir Gene Ciampi adalah sebuah kalimat dari bahasa asing yang berarti terimakasih atau semacamnya namun setelah saya cari tahu liriknya, saya tarik kesimpulan bahwa Gene Ciampi adalah nama seorang idola. Siapapun dia, Mr Twin Sister telah mewakili perasaan penggermar Tuan Gene Ciampi dalam lagunya.

Satu hal yang akan saya lakukan apabila saya telah berhasil menemukan jarum dalam tumpukan jerami yang telah lama saya nanti (?) adalah memutarnya terus-menerus. Mengulang-ulang untuk kemudian saya bagikan kepada beberapa teman dekat. Asal kalian tahu, sharing lagu adalah wujud kepedulian saya terhadap kebahagiaan teman-teman yang saya harap berbanding lurus dengan kebahagiaan saya ketika mendengarkan lagu tersebut. Manis sekali bukan?

Ketika terus menerus mendengarkan Gene Ciampi, hormon kebahagiaan saya meningkat. Perasaan karena menjadi seseorang yang tidak produktif digantikan oleh semangat baru yang menuntut saya untuk bahagia karena produktifitas saya harus dimulai hari ini. Ajaib. Hal ini bukan pertama kali saya rasakan, sebelum bertemu Gene Ciampi ada beberapa lagu yang memberikan efek macam-macam terhadap diri saya. Lebih tepatnya membolak-balikkan suasana hati.

Bagaimana bisa sebuah lagu dapat mengubah mood seseorang?

Setiap orang memiliki reaksi yang berberda-beda terhadap musik. Satu orang mungkin menyukai musik pop, metal atau dangdut, sementara yang lain akan merasa bahagia jika mendengarkan Mozart.

Finding out the actual year made me realize how much happier I was not knowing,
I’m heavily distracted is this just an illusion is this romantic dreaming?
I’ve forgotten everything.

Setelah saya cari tahu melalui portal luar biasa bernama Kerang Ajaib, tentu bukan, portal luar biasa bernama Google, yang baru saja memberikan kemiringan beberapa derajat pada huruf "e" yang kemudian ditafsirkan menjadi sebuah smiling e(ye) (tapi keduluan Heineken), sebuah penelitian dari Kanada, yang diterbitkan pada Nature Neuroscience, telah menunjukkan bahwa memainkan musik favorit bisa membantu mencairkan suasana hati yang buruk. Ini linknya.

Musik dapat memicu adanya pelepasan dopamine, yang berhubungan dengan perasaan senang, sedih, marah dan lain sebagainya karena mendengarkan musik.

Dopamine adalah suatu neurotransmitter yang terbentuk di otak dan organ tubuh lain. Neurotransmitter adalah senyawa yang menghantarkan sinyal atau rangsangan antar sel saraf atau antara sel saraf dengan sel lainnya. Dari Wikipedia sih gitu.

Well, saya akan tetap percaya bahwa musik adalah keajaiban. Bahwa musik adalah gambaran jiwa dari setiap pendengarnya. You are what you listen to adalah benar adanya. Salam super!


Sukoharjo
13 September 2015