Rabu, 10 Juli 2013

Normal, Saya Kembali Normal

Hai, kali ini saya akan mencoba menulis dengan normal.

Mengenai kehidupan saya akhir-akhir ini, ada baiknya jika sedikit saya singgung untuk beberapa hal. Buku, aku suka buku, hal paling menakjubkan dalam hidup saya, selain Papua dan kasih sayang luar biasa dari seseorang adalah buku. Bicara tentang buku, beberapa hari yang lalu saya niat banget lihat lapak-lapak buku bekas di daerah Kwitang. Informasi mengenai tempat ini saya dapatkan dari film Ada Apa Dengan Cinta. Selain itu teman-teman yang nggak tau juga mereka bener-bener tau atau enggak pun merekomendasikan tempat ini. 

Dengan terik matahari yang menyengat waktu itu (ok lebay) tapi ya emang panas sih, jadilah saya berangkat ke suatu tempat yang bernama Kwitang tersebut. Naik angkot dua kali, sekali Tebet-Kampung Melayu kena tarif normal dua ribu maratus. Setelahnya, naik nomor 01 ke arah Senen yang dengan polosnya saya nanya nanya ke abang sopirnya bahwa saya nggak tau Kwitang daerah mana, tapi benar dia anter saya dengan selamat sampai tujuan tanpa kurang suatu apapun, yang jadi masalah, bayar angkotnya jadi nggak normal. Goceng you know. Buat anak kost lepasan macem saya, naik angkot bayar goceng adalah hal paling menyebalkan selain menstruasi dadakan sedangkan lo berada di tempat yang jauh juala pembalut. Shit, i wrote it down now. Sorry, my bad kebawa emosi jadi lepas filter.

Oke, sampai di Kwitang dengan mood jelek banget, dan ternyata saya masih harus jalan kaki juga hasil nanya-nanya abang mie ayam tentangb keberadaaan pasar loaka tersebut. Hop. Hati riang gembira karena katanya jaraknya nggak jauh dari tempat saya berpijak ini. Bener! Saya nemu toko buku, tapi cuma satu, nggak seperti dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang kutonton. Jalan mondar-mandir tetep yang ditemuin cuma bapak-bapak geje nongsky tengah hari bolong. F.

Duduklah saya dengan manis di burjo yang juga nggak kalah nambah-nambahin bad mood, yakali di burjo nggak ada es batu. Oh ya, burjo adalah sebuatan buat warkop mamang-mamang sunda yang disitu juga dijual internet as known as indomie telor kor? net. OMG internet (ngiler). Fokus.

Menjadi-jadilah kebetean saya, untung nggak makanin taneman. Ngubek-ubek google samapai nelfonin temen sana-sini buat memastikan keberadaan Kwitang apakah masih eksis atau enggak. Dan ternyata enggak. Udah direlokasi ke daerah Poncol dan Thamrin. Deg, langsung acak-acak kerudung. Nggak deng. Langsung lari-lari telanjang sambil nangis makanin taneman se pot-potnya. Ok ini jayus. Banget.

Buntu deh. Yaudah sih, karena saya nggak tau where the hell Poncol and Thamrin are, akhirnya saya memutuskan buat ke TIM. Telor isi makarel. Bukaaaan! Taman Ismail Marzuki. Berjalanlah lagi saya menyusuri jalanan Kwi to the Tang sampai hampir Matraman (kejauhan ya?) untuk mencari seonggok tukang ojeks. Wuuuuz, here i am. TIM.

Celingak-celinguk seperti anak angsa yang hilang dari sarang (kurang-kurangin Kooor). Ceban melayang buat mamang ojek yang dengan sigap ngajak saya sampai TIm dalam waktu yang sangat singkat. Iyalah, ternyata deket banget. Dan bodohnya, saya kasih ceban. Waktu itu saya sempat menyadari kalau mamang ojek yang budiman itu terlihat memandang saya, antara mau ngasih kembalian atau mau minta lebih. Sepertinya opsi pertama lebih etis. Tapi yasudahlah, sedekah. Nangis juga deh. 

Menuju Kineforum. Bayangan saya ketika menginjakkan kaki di depan TIM, bakal ada plang segede gaban buat nunjukin arah jalan ke Kineforum. Tapi ternyata enggak, beneran enggak. Yoweslah, jalan muter, nanya satpam, jalan lagi sampai akhirnya aku menemukan secercah cahaya kehidupan yang membawaku sampai ke tempat yang saya cari. Yeeeeay, finally. Kineforum.

Nggak seramai yang saya kira, sepi abis cyin. Yah karena memang bukan tempat nongkrong sih. Tapi saya suka banget. Sepi, tenang, rimbun, tersembunyi dan artsy. Lumayan lah daripada kantor Kine saya di Solo. Jauh meeeen.

Order tiket buat nonton Dont Talk Love-nya Mouly Surya. Ya emang sepi. Pertama karena saya pikir memang udah banyak pada nonton terus juga kan seatsnya terbatas. Dan bayar. Gak semua orang suka bayar. Kecuali saya. Huehehe

Nunggu. Nunggu. Nunggu. Heran, 80% hidup saya kayaknya abis buat nungguin semua hal. But that just fine, i'll fight for that. Kencengin iket kepala dulu kali ya biar dramatis. Hop!

Sejam saya nunggu sambil baca buku Sayyid Qutb pemberian dari teman. Membacalah saya sampai nggak sadar itu tempat yang awalnya sepi mendadak ramai sama sebagian besar pasangan muda-mudi masa kini. Buru-buru deh saya nengok kalender di HP. Damn, salah timing, ini malam minggu dan saya? Dan saya sendirian. Well, BIASA. Kori adalah wanita tegar setegar batu karang di lauatan. Cukup.

Amaze sama film yang saya tonton. Pulang deh. Eh makan dulu deng karena laper, hardcore abis, sendirian. Perlu digaris bawahi. Abis makan, nyegat P20. Sebenernya pingin nonton Monster University di XXI TIM. Tapi apalah daya balada kantong ketemu tanggal tua, plus ketemu malem minggu, batal deh. Sampai XXI sih, tapi cuman buat numpang kencing.

Ini cerita normal saya. Udah ah segitu aja, mau buka puasa. Delivery ordernya udah dateng MAKAAAAAN. Btw, kalian tahu apa yang sedang saya makan dan apa yang sedang saya tonton? Pokoknya makan. Sambil nonton walking dead. Untung saya tipikal wanita yang...whatever you watch no matter for what you eat. Halah.

Bye.

Kalah Atau Menang Bukan Hal Penting

Untuk siapa kami menggelar-gelar kemuliaan demi kemuliaan yang sebenarnya cuma bentuk gimmick gempita sesaat yang hanya muncul di awal paragraf?

Bukankah menyebalkan mengetahui darimana asal jalan sebuah keriaan yang sebenarnya hanya bayang-bayang tanpa tuan? Dengan apa kita menyatakan segala macam bentuk kejemu-jemuan sebenarnya yang mungkin tak satupun kawanan koloni singa lapar ini tahu? Tunggu, apa aku terlalu sering menuliskan kata semu dalam tulisan-tulisanku?

Kutulis semua kesemuan yang ada padaku dalam layar tanpa garis yang entah telah menjadi tambatanku akhir-akhir ini dan masih belum dapat kuputuskan untuk berapa lama lagi aku akan seperti ini. Terlalu lelah, semua orang terlalu lelah bermain-main dengan pikiran mereka sendiri. Pun juga denganku. Ini yang aku bisa. Menyusun ulang huruf a sampai z untuk kemudian kupajang di laman diaryku yang kemudian kau bisa baca untuk mencari tahu makhluk apakah sebenarnya aku ini. Ya kan?

Sampai kapan aku akan terus berada dalam kungkung segala hal yang kupikir memang sangat tidak jelas begini? Bagaimana aku dapat keluar dan menikmati udara kebebasan yang di langit-langitnya dapat kugantungi dengan jari-jariku hingga ketiakku dapat merasakan semilir angin yang katanya bisa membuat wangi deodorant baruku tercium sampai garis tak terbatas, sejauh pandanganku atas segala apa yang membuatku merasa benar-benar lepas? Paradoks.

Aku terjebak dalam tubuh dewasa. Aku berada dalam dimensi yang salah. Mungkin.

Kamis, 04 Juli 2013

Kelas Membaca

Aku, kamu snhajbdhej bdajsgfk asjfancjan fjgncnsfhkr hLSdn. jakshjhjn khrk ashfasjn caerck ajncnc djfhzx kasjbkasj asdhf uiasjlasjhr yhaksdhg jskhaowrh sdhad hasjnxnsurnzs dhNSdhKJSDh jddfjdkhfkdhychgxkujlk jj hidjfhf. sifhisyfj hishfhjdi idhjfiu yfjdju. idfhihihi udoifh asufhf djfadj yrzcho aifgudfh jfhajyh. usfhu ufaeybc sd  ud fiusad cudjfyi uefniuf udfdfuyrfz ufhaidsfh cnaidsf.

idasnfisdfh fuufjhosd ufhdofhzosf aku kamu fjdf  fghfg kudfhz dfgzxf. udfiyrfyzfhu faff fudfudfyaoifoF IUSDHifh jfghofthsdii.sfh dkjfy urafsjdhsdfur difhsohdfhtr. udkfujsdfijsidf fisdfhtu budfhsodifh uifhosidf. udfhuyhsd forhsudfh nbjdfhsdb. hifhosdh sdhaloko jdfhlskdif idjoihyadh udfh. udyhigythu udfhiadu odshoasdfhgudf. hihiohh idfyoafhhg. f isodfhyr uiuafyh dAs asifyodgoyf sidhidufisd iudhiusdf iudfiudfhf iusuysd idgisufisdu fsiduft kdhfjsdhryzdfyisd fisdyrsudo adfvnbmfdf. ufoierhd uasfrh udsufyriafu idfyiae ieharuh asdhf asufhe hoau asifhgao sifhehfoa foiafy ehfiasf idufhoa rfaf oduho afhudf fuhdfhdf  dfuhr duf sdf id. ufguryas ufgtuf dufdf udfhufhh uasfyasuj dufan usfyes. hrhs usfysodug iysdtsb rha sfyd ujsyrhsa sfysfhrysj sdjrys hfdfrujh dhtdjhsdj ksdhfjd ksdjrhsu.

jadhjgfka sjfhsjsd lksjda ladje hadjfh kaejhd jdheha djaehd jedhdna kaja jdhakejd jadkhf kdff. jdheadnj, dahakbad gdbjdbhe jdhfnvbcn cvndfbdjdbvn djfhabfhfba dhfbnhsdhfhn mfhkjdvh jdfhajdfhj. Jahsjgdhdf ffhdjdrhdj drdjskio kakeidk keirkso disrkiskopl kaeiakdieajd opoleoejd orldoljdl rklakdiejs ksiksdik lakeiskjla dkejlaiekha kdjej.

Aku, kamu. iafhf iudsfhudrhasfd dkdsjgfjfhdifj kita jdhfkjdfnrh sdfnsdfnsk. dfihafhr udfhjdryhzfjafg sadiufhuguisd sdiughusdhu idhiohuhdfjhsdgfj jdhsdg. uhusighsdghdsight. jsdhsdy hfsuidgnh ishdfiu syhhug hysdjgh suhsdgjf. 

Mengerti?

Rabu, 03 Juli 2013

Bayi Unta, Riding Horse, dan Seorang Pemabuk

Jadi apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Memikirkanku? Aku tahu jelas tidak akan.

Terus saja aku menganalisa keberadaanmu, sedang apa kamu, sedang melakukan apa kamu. Ada banyak yang harus kupikirkan selain kamu, tapi aku bisa apa jika memang aku tiada berkehendak untuk melepaskan sudut penglihatanku darimu. Penglihatan mata batinku atas segala apa yang menyangkut tentang kamu.


Tidakkah ini cukup terdengar menyedihkan untuk kamu baca? Selamat, kamu telah menjamah ruang semuku dengan sangat mengagumkan. Tapi belum, ini belum masuk bagian yang paling menyedihkan.

Tentang bagaimana seekor bayi unta dibiarkan berjalan sendiri mendekat pada oase sedang sang kakak tahu bahwa itu hanya sebuah ilusi tapi tiada pernah ia melarang atau memperingatkan bayi unta tersebut untuk berhenti. Justru sedari awal dia memupuk perasaan si unta kecil malang untuk terus berjalan mendekat. Jahat? Tidak, dia membiarkannya belajar. Dia sadar betul telah beradik lebih pintar darinya.

Riding horse, riding horse, riding in the subway groove..
Moonlight soar, riding horse, poor you circling on a floating cube..

Apa yang harus kulakukan jika kamu mendapati teman perempuanmu sama-sama mabuk tapi tetap tak dikatakan bahwa ia benar-benar turut mabuk sampai pada suatu hari kau merasa kecewa karena terus saja ia berkata tidak mabuk tapi padahal sebenarnya mabuk? 

Kenapa dia membiarkanku merasa mabuk sendirian? Apa salahnya jika kami saling mengakui bahwa kami sama-sama mabuk? Apa dia malu? Apa dia sengaja mengajakku untuk mabuk lebih dalam untuk kemudian melihatku muak sampai muntah? Lucu. Semua berjalan sangat lucu. Tak seorangpun kuceritai bahwa aku mabuk kecuali dia yang kuanggap tak pernah mabuk. Keterlaluan.

Siapa yang bodoh? Aku? Damn.

Aku merasa tak ingin berhenti megira-ira. Merasa ingin terus tertawa setelahnya karena mengetahui kenyataan bahwa aku sungguhpun tak lebih mabuk dari temanku. Tak lebih tenggelam daripadanya. Beruntung aku hanya sempat minum satu gelas. Oh mungkin karena terlalu mabuknya jadi ia tak sadar jika sedang mabuk juga? Dasar pemabuk.

Senin, 01 Juli 2013

Delapan Paragraf Untuk Yang Tak Satupun Benar Aku Tahu

This like a particular issue to write before i move passing a gloomy day.

Bukan pengantar yang sesuai untuk menunjukkan isi cerita yang akan aku tulis. Sebenarnya, jika ingin jujur, aku tidak tahu benar arti particular di sini. Ya, kalian boleh tertawa.

Paragraf kedua. Kalian tahu apa yang sedang kucemaskan? Tidak, bukan lagi menyoal masa depan atau hal rengek-rengek mengenai masalah warna baju dan celana. Penantian. Membosankan memang, aku sedang menunggu dan menduga-duga penuh harap atas beberapa hal manis yang kualami belakangan ini.

Paragraf ketiga. Tentang apa dan siapa, tidak akan kujelaskan. Anggap saja ini hari natal yang setiap anak rela menggantungkan kaus kaki hangatnya di depan pintu dan perapian. Untuk siapa? Santa. Siapa Santa? Apakah dia akan benar-benar datang? Tidak.

Paragraf keempat. Setelah kupikir-pikir, benar aku adalah analogi dari gadis kecil penunggu perapian untuk sebuah kado dari Santa. Pikiranku hanya tertuju pada satu pusat, objek misterius, Santa.

Paragraf  kelima. Dia mengetahui dengan pasti bahwa hal yang paling kusenangi adalah selalu dalam pelukannya. Membenamkan diri dalam sela-sela antara kedua bahunya yang lebar dan besar. Bahu paling hangat sekaligus paling nyaman untuk kemudian kuletakkan daguku dan menahan wajahku dengan mata yang mengatup. Aku seperti menggantung di dadanya.

Paragraf keenam. Bagaimana mungkin Santa yang entah keberadaannya nyata atau tidak mampu membuatnya rela berdiam di depan perapian menunggui kantung kaos kalinya penuh?

Paragraf ketujuh. Aku pernah sekali mencoba mendaratkan bibirku di keningnya ketika dia tidur. Dia tidak tahu, memang karena aku sedikit malu-malu. Wajah tidur. Kupandangi sampai bosan. Bisa, dia bisa membuatku melakukan hal seperti itu dengan dekapan yang hanya berlangsung dua detik. Kau tau berapa lama aku memandanginya? Dua jam. Kau tau apa yang kupikirkan? Teh. Mungkin akan lebih baik jika ketika dia bangun aku membuat secangkir teh.

Paragraf kedelapan. Ada satu masa yang seharusnya dapat dijadikan titik perenungan untuk manusia-manusia sekarang. Demi perspektif tak terjamah dan “Apa kabar, Maria?”